Rabu, 30 September 2009

ISY KARIMAN AU MUT SYAHIDAN

"ISY KARIMAN AU MUT SYAHIDAN"

( Slogan Pembangkit Militansi )

Oleh : Komaruddin H.


Saatnya Jihad untuk Membangun Peradaban


SUATU hari di Pa­lestina, seorang pe­muda (sebut saja Omar) me­ngadakan acara per­pisahan de­ngan anggota keluarga dan te­man-teman dekatnya. Satu per satu ke­luarga dan temannya menjabat tangan dan mencium keningnya sebagai tanda per­pisahan. Berpisah untuk selamanya, karena Omar tengah bersiap menuju ke­matian, demi meraih kehidupan yang le­bih sejati dan membahagiakan.

Dengan mengenakan jaket agak longgar dan mengenakan ikat pinggang di­sertai ba­han peledak sekitar lima kilo­gram, Omar dengan tenang berjalan ke pa­sar, pu­sat keramaian warga Israel. Tak lama ke­­mudian terdengar ledakan, se­dikitnya 12 orang meninggal dan 30 orang terlu­ka. Omar ikut meninggal ber­sama mereka.

Bagaimana mesti memahami serentetan peristiwa bunuh diri dengan bom se­perti yang dilakukan Omar di Pales­tina itu? Demikian juga yang terjadi di In­donesia akhir-akhir ini? Para psikolog Barat dengan segera menyimpulkan bah­wa mental mereka sakit. Namun, se­karang mulai berkembang berbagai teori yang hendak menjelaskan menga­pa ada sekelompok pemuda yang antusias melakukan bunuh diri dengan me­ledakkan bom.

Dari hasil penelitian terhadap 400 ang­gota Al Qaidah, 90 persen datang dari keluarga yang hangat dan baik-baik, usia berkisar 18-38 tahun. Dua per ti­ga sarjana, memiliki keluarga, dan ma­yoritas bekerja dalam bidang sains dan engineering. Mereka adalah anak-anak yang cerdas dalam lingkungannya. Jad­i, anggapan bahwa mereka me­miliki mental sakit (abnormal psy­chology) dianggap tidak tepat.

Ada juga teori cuci otak (brainwashed). Ibarat komputer, program dan memori lama dihapus, lalu diganti dengan yang baru. Caranya, dihadirkan fakta dan argumen serta indoktrinasi adanya mu­suh besar yang hendak meng­hancurkan diri dan kelompoknya. Dalam konteks radikalisme Islam, agresi Israel yang didukung AS sudah cukup sebagai amunisi untuk mengobarkan semangat mati syahid, terutama bagi pemuda-pe­muda Palestina.

Seperti ditunjukkan oleh berbagai penelitian sosial, radikalisme-terorisme itu pada mulanya bersifat sekuler, yaitu perlawanan ter­hadap musuh luar yang hendak me­rampas dan menguasai tanah air mereka. Keberanian mati de­ngan menerjang kekuatan musuh dibuktikan secara impresif, misalnya, oleh pasukan Kamikaze Jepang dan tentara Vietnam. Sema­ngat dan kesiapan mati itu me­nguat ketika ditambah amunisi keya­kinan agama bahwa mati melawan orang kafir itu termasuk mati syahid, imbalannya surga. Se­mangat itu berkobar di kalangan pemuda-pemuda Palestina dan dulu di Indonesia ketika melawan penjajah Belanda. Dengan teriakan Allahu Akbar dan senjata bambu runcing, para pejuang itu siap menjemput maut yang diyakini pintu gerbang menuju surga.

Berbagai peristiwa bom bunuh diri yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini memerlukan analisis dan studi khusus, mengingat Indonesia bukanlah Palestina, bukan Afganistan, bukan pula daerah perang melawan penjajah Belanda seperti zaman dulu. Bahkan, umat Islam Indonesia saat ini memiliki surplus kebebasan daripada semasa Orde Baru. Pintu terbuka lebar untuk mendirikan partai politik Islam. Bank Syariah bermunculan, dakwah pun tanpa izin. Bah­kan, melalui parpol dan ormas Islam serta Departeman Agama, berbagai aspirasi untuk melaksanakan ajaran Islam sangat kondusif.

Oleh karena itu, tindakan radikalisme-terorisme dengan dalih membela Islam menjadi slogan dan tindakan anomali di Indonesia yang dikenal sebagai kantong umat Islam terbesar itu. Terlebih lagi yang menjadi korban juga se­sama muslim.

Kalah dan Marah

Secara psikologis, para teroris itu sesungguhnya orang yang kalah dan putus asa. Mereka merasa ter­ancam oleh musuh besar yang sulit dikalahkan dengan diplomasi dan perang sehingga jalan ter­murah dan heroik, menurut me­reka, adalah melalui teror. Me­minjam logika ekonomi, dengan teror bom bunuh diri, modal yang di­keluarkan sedikit, namun diharapkan hasilnya besar, berlipat-lipat. Tapi, logika ini sangat menyesatkan karena justru umat Islam secara umum sangat dirugikan oleh tindakan sekelompok teroris tersebut, jauh lebih besar kerugiannya ketimbang pihak lawan yang dijadikan sasaran. Kalau me­reka maksudnya membela Islam, benarkah posisi Islam dan umatnya menjadi lebih baik?

Jadi, di balik antusiasme untuk ''mati syahid'', sesungguhnya secara psikologis mereka itu merupa­kan komunitas yang merasa kalah dalam persaingan politik, ekonomi, dan militer. Lalu, mereka ma­rah dan membalas dendam di luar medan perang dan yang menjadi saran adalah masyarakat sipil tan­pa senjata. Situasi itu sangat bertolak belakang dari apa yang dila­kukan Salahuddin Al Ayyubi, pang­lima Perang Salib, yang justru me­ng­ajak gencatan senjata ka­rena Ri­chard the Lion Heart, pang­l­ima pihak Kristen, lagi sakit. Bah­kan, Al Ayyubi mengutus dokter pribadinya untuk mengobati dia. Setelah Richard sehat, perang dimulai lagi.

Akar dari terorisme-radikalisme itu, antara lain, adalah krisis kepercayaan diri, krisis rasa aman, krisis ekonomi, dan krisis ilmu pe­ngetahuan. Dengan begitu, yang muncul adalah marah, dendam, me­ngamuk di luar medan tempur, dan ujungnya melakukan bom bunuh diri. Dulu Rasulullah dan para sahabat ketika menaklukkan Makkah tak ada darah yang menetes. Mes­ki­pun, para sahabat sudah sangat siap dan bersemangat untuk berpe­rang. Yang terjadi justru pengampunan masal dan memperkuat kem­bali tali persaudaraan.

Itu terjadi karena umat Islam sa­ngat percaya diri secara militer, namun yang lebih penting lagi Ra­sulullah senang pada perdamaian dan melarang balas dendam kepa­da musuh-musuhnya. Sikap ramah dan toleran juga diperlihatkan oleh umat Islam pada abad tengah, ketika secara ekonomi, militer, dan ilmu pengetahuan tidak merasa ter­ancam, bahkan unggul.

Sejak masih di pesantren, saya sudah terbiasa mendengar slogan Isy kariman au mut syahidan, hidup­lah terhormat atau mati syahid. Slo­gan itu sangat cocok dan dapat di­mengerti ketika umat Islam ber­ada dalam medan tempur, misalnya, ketika Tariq bin Ziyad dan ten­taranya hendak menaklukkan Andalusia dulu. Agar semangat jihad anak buahnya tetap tinggi, se­telah mendarat di Andalusia, se­mua kapal dibakar sehingga tak ada pilihan lain kecuali menghadapi musuh. Di situlah Tariq bin Ziyad menyampaikan pidato agitatif yang sangat terkenal dan diajarkan di lingkungan pesantren.

Kira-kira isi pidato tersebut de­mikian: Saudara-saudaraku seiman, di belakang Anda adalah laut­an. Di depan adalah musuh. Kalau hati Anda kecut dan ingin lari, lautan akan menyambutmu dan Anda akan mati konyol karena kapalmu telah tiada. Tetapi, ka­lau Anda serbu dan lawan musuh, kemenangan di tangan Anda. Kejayaan di dunia dengan me­menangi perang atau kejayaan di akhirat kalau Anda mati.

Untuk jangka waktu sekitar lima abad, Andalusia dikuasi Islam dan menjadi pusat peradaban dunia. Kini peperangan sudah berganti me­dan, dari perang fisik ke perang ekonomi, sains, persenjataan, dan peradaban. Rupanya, Jepang sangat sadar perubahan ini setelah kalah dalam Perang Dunia. Mereka tidak lagi mengandalkan pasukan berani mati dalam menghadapi supremasi Barat, tetapi mereka melakukan revolusi pendidikan, teknologi, dan industri sehingga negara dan bangsa yang kecil itu di­segani Barat.

Meminjam bahasa pesantren, Jepang berjihad membangun per­adaban dan merebut keunggulan da­lam hidup, bukan mengandalkan keberanian untuk mati. Dunia Islam mestinya belajar dari Jepang, Tiongkok, dan Korea Selatan kalau ingin memenangi pertempuran melawan Barat. Bukankah kejayaan Islam pada abad te­ngah disangga oleh kemajuan ilmu pengetahuan, bukan pertempuran, kemarahan, kebencian, dan putus asa menjalani kehidupan?

Hiduplah terhormat karena ber­­hasil membangun prestasi per­adaban. Dan, siapa yang mati membebaskan umat dari ke­mis­­kinan dan kebodohan dengan niat ibadah, insya Allah, termasuk mati syahid.

Komaruddin Hidayat, rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Rabu, 27 Mei 2009

IKHLAS ADALAH ROH SEGALA AMAL DAN KUNCI KEBAHAGIAAN DUNIA AKHERAT

BERIKHLASLAH DALAM BERAMAL BAIK...!
Berapapun banyaknya perbuatan dan amal kita yang menelan keringat dan darah tapi kemudian sia-sia karena tidak dibarengi niat yang ikhlsh; Berhati-hatilah dalam mengarahkan niat yang bergelora dalam hati kita.
Jangan takut bila perbuatan kita tidak diketahui atau tidak dipuji orang; karena pujian orang tidak ada artinya bila Allah menolaknya; tetapi takutlah bila perbutan kita ditolak oleh Allah karena tidak ada keikhlasan didalamya.

Ikhlash adalah ruh dari sekecil apa-pun amal perbuatan kita, dan ikhlash merupakan kunci menuju kebahagiaan.
Ikhlashkan niatmu, niscaya kamu akan memperoleh balasan amalmu meskipun amalmu itu sedikit.

Harus kita sadari, bahwa kita diciptakan dan hidup di dunia ini hanyalah untuk mengabdi kepada Allah SWT., mengumpulkan amal saleh dari detik ke detik, dari hari ke hari sebanyak-banyaknya sebagai bekal untuk mencapai ridha Allah SWT. Tidak ada artinya hidup kita, apabila kita kerahkan hanya untuk mencari kenikmatan dunia semata, kerena dunia ini hanya sementara. Kita pasti akan meninggalkannya cepat atau lambat tapi pasti. Tidak ada gunanya kita bekerja keras hanya untuk memenuhi keinginan hawa nafsu, karena hawa nafsu hanya panggilan sesaat yang setelah itu ia akan hilang meniggalkan dosa-dosa dan menodai harga diri kita.

Ikhlash dalam arti bahwa kita bekerja apa pun hanya dengan niat untuk meraih ridha Allah semata, karena hanya dengan ikhlash inilah kebahagiaan abadi akan kita raih. Segala bentuk amal, yang besar sekalipun nilainya dimata manusia, tidak ada artinya dihadapan Allah apabila tidak dibarengi dengan keihklasan. Namun sebaliknya, sekecil apapun perbuatan kita dimata mansuia, apabila dibarengi dengan niat yang ikhlash, amal kita akan menjadi sangat besar nilainya dihadapan Allah, dan ia akan menjadi mercusuar bagi kebahagiaan kita di dunia dan di akhirat.


Rasulullah SAW. telah berwasiat kepada Abu Dzar Al-Ghifari dengan sabdanya :
”Wahai Abu Dzar ! Perbaharuilah perahumu, karena sesungguhnya lautan itu sangat dalam; Ambilah bekal yang cukup, karena sesungguhnya perjalanan itu sangat jauh; Ringankanlah beban bawaan, karena sesungguhnya rintangan itu sangat sulit untuk dilalui; Ikhlaslah dalam beramal, karena sesunggunya inspektur penilai (Dzat Allah) Maha Melihat”.


Yang dimaksud dengan memperbaharui perahu adalah memperbaiki, meluruskan dan menjaga niat dalam setiap amal dan perbuatan yang kita lakukan (Ikhlash). Dan maksud agar kita memperingan beban, yaitu jangan banyak-banyak mengambil keduniawian yang nantinya akan kita pertanggung jawabkan dihadapan Allah.
Adapun kehidupan akhirat dilukiskan dengan lautan yang sangat dalam, perjalanan yang sangat jauh, dan rintangan yang sangat sulit dilalui karena banyaknya kesulitan, rintangan, godaan dan tantangan yang menghadang kita untuk sampai dan menggapai kebahagiaan Akhirat.

Abu Sulaiman Ad-Darani berkata : ”Beruntunglah orang-orang yang dalam hidupnya beramal dengan niat hanya mengharap ridha Allah”.
Rasulullah SAW. bersabda : ”Seandainya sesorang diantara kalian melakukan suatu kebaikan di tengah padang sahara yang sangat sepi, dalam ruangan yang tertutup rapat tanpa pintu, amal itu suatu saat pasti akan ketahuan juga”.

Rabu, 29 April 2009

Syahwat Politik Itu Jauh Lebih Besar Ketimbang Syahwat Harta

Tahta atau kuasa (al-jah) selalu diminati, bahkan diperebutkan oleh manusia sepanjang waktu. Alasannya, karena manusia mengira, dengan memiliki kuasa, ia akan menggapai apa saja yang menjadi keinginannya. Tak heran bila daya tarik (baca: syahwat) politik itu begitu tinggi. Menurut Imam Ghazali, syahwat politik itu jauh lebih besar ketimbang syahwat harta. Hal ini, menurutnya, disebabkan oleh tiga faktor.

Pertama, kuasa dapat mendatangkan harta. Dengan kuasa, manusia bisa menumpuk kekayaan. Tidak demikian sebaliknya. Diakui, untuk mencapai kuasa, manusia butuh harta, tetapi tidak setiap orang yang telah menghabiskan begitu banyak harta, dengan sendirinya ia mencapai tahta.

Kedua, kuasa menimbulkan efek popularitas yang luar biasa. Begitu seorang dinobatkan sebagai pejabat, demikian Ghazali, maka seketika itu ia akan menjadi masyhur di seluruh pelosok negeri. Dalam dunia modern, popularitas itu akan bertambah besar bila ia mampu memanfaatkan dukungan media massa.

Ketiga, pengaruh kuasa relatif lebih dalam dan tahan lama. Pada sebagian orang, pengaruh kuasa menimbulkan loyalitas yang sangat tinggi, bahkan kesetiaan sampai mati. Tidak demikian dengan pengaruh harta.

Kuasa sebagai sesuatu yang secara alamiah digandrungi manusia, tentu bukanlah sesuatu yang dilarang oleh agama. Setiap orang, demikian Ghazali, boleh mendapatkannya, asalkan dengan cara yang baik (halal) dan dipergunakan untuk kebaikan pula. Dalam hal ini, ada dua hal menurut Ghazali yang perlu diperhatikan.

Pertama, kita tak boleh mencapai tahta dengan cara-cara yang tidak halal, seperti menipu, berbuat curang atau menunjukkan kualitas agama dengan berpura-pura menjadi orang shaleh. Perbuatan yang terakhir ini dinilai Ghazali sebagai kejahatan besar (jarimah) terhadap agama.

Kedua, setelah mencapai kuasa, orang diminta agar bekerja keras dan menggunakan kuasa yang dimiliki untuk kesejahteraan rakyat. Di sini berlaku kaidah tasharruf al-imam manuth bi al-mashlahat (sepak terjang seorang imam harus relevan dengan kepentingan dan kemaslahatan rakyat).

Demi kesejahteraan rakyat, ia dituntut agar berbuat jujur dan adil, serta amanah. Inilah makna firman Allah, 'Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil.' (QS An-Nisa [4]: 58). Wallahu a′lam.

Masa Muda, Waktu Utama Untuk Beramal Sholeh

Alhamdulillah was shalaatu was salaamu ‘ala Rasulillah wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam.

Waktu muda, kata sebagian orang adalah waktu untuk hidup foya-foya, masa untuk bersenang-senang. Sebagian mereka mengatakan, “Kecil dimanja, muda foya-foya, tua kaya raya, dan mati masuk surga.” Inilah guyonan sebagian pemuda. Bagaimana mungkin waktu muda foya-foya, tanpa amalan sholeh, lalu mati bisa masuk surga[?] Sungguh hal ini dapat kita katakan sangatlah mustahil. Untuk masuk surga pastilah ada sebab dan tidak mungkin hanya dengan foya-foya seperti itu. Semoga melalui risalah ini dapat membuat para pemuda sadar, sehingga mereka dapat memanfaatkan waktu mudanya dengan sebaik-baiknya. Hanya pada Allah-lah tempat kami bersandar dan berserah diri.


Wahai Pemuda, Hidup di Dunia Hanyalah Sementara

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menasehati seorang sahabat yang tatkala itu berusia muda (berumur sekitar 12 tahun) yaitu Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma. (Syarh Al Arba’in An Nawawiyah Syaikh Sholeh Alu Syaikh, 294). Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang pundaknya lalu bersabda,

كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ , أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ

“Hiduplah engkau di dunia ini seakan-akan sebagai orang asing atau pengembara.” (HR. Bukhari no. 6416)

Lihatlah nasehat yang sangat bagus sekali dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada sahabat yang masih berusia belia.

Ath Thibiy mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memisalkan orang yang hidup di dunia ini dengan orang asing (al ghorib) yang tidak memiliki tempat berbaring dan tempat tinggal. Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan lebih lagi yaitu memisalkan dengan pengembara. Orang asing dapat tinggal di negeri asing. Hal ini berbeda dengan seorang pengembara yang bermaksud menuju negeri yang jauh, di kanan kirinya terdapat lembah-lembah, akan ditemui tempat yang membinasakan, dia akan melewati padang pasir yang menyengsarakan dan juga terdapat perampok. Orang seperti ini tidaklah tinggal kecuali hanya sebentar sekali, sekejap mata.” (Dinukil dari Fathul Bariy, 18/224)

Negeri asing dan tempat pengembaraan yang dimaksudkan dalam hadits ini adalah dunia dan negeri tujuannya adalah akhirat. Jadi, hadits ini mengingatkan kita dengan kematian sehingga kita jangan berpanjang angan-angan. Hadits ini juga mengingatkan kita supaya mempersiapkan diri untuk negeri akhirat dengan amal sholeh. (Lihat Fathul Qowil Matin)

Dalam hadits lainnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا لِى وَمَا لِلدُّنْيَا مَا أَنَا فِى الدُّنْيَا إِلاَّ كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا

“Apa peduliku dengan dunia?! Tidaklah aku tinggal di dunia melainkan seperti musafir yang berteduh di bawah pohon dan beristirahat, lalu musafir tersebut meninggalkannya.” (HR. Tirmidzi no. 2551. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan At Tirmidzi)

Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhu juga memberi petuah kepada kita,

ارْتَحَلَتِ الدُّنْيَا مُدْبِرَةً ، وَارْتَحَلَتِ الآخِرَةُ مُقْبِلَةً ، وَلِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا بَنُونَ ، فَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الآخِرَةِ ، وَلاَ تَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الدُّنْيَا ، فَإِنَّ الْيَوْمَ عَمَلٌ وَلاَ حِسَابَ ، وَغَدًا حِسَابٌ وَلاَ عَمَلَ

“Dunia itu akan pergi menjauh. Sedangkan akhirat akan mendekat. Dunia dan akhirat tesebut memiliki anak. Jadilah anak-anak akhirat dan janganlah kalian menjadi anak dunia. Hari ini (di dunia) adalah hari beramal dan bukanlah hari perhitungan (hisab), sedangkan besok (di akhirat) adalah hari perhitungan (hisab) dan bukanlah hari beramal.” (HR. Bukhari secara mu’allaq –tanpa sanad-)

Manfaatkanlah Waktu Muda, Sebelum Datang Waktu Tuamu

Lakukanlah lima hal sebelum terwujud lima hal yang lain. Dari Ibnu ‘Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَ صِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَ غِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَ فَرَاغَكَ قَبْلَ شَغْلِكَ وَ حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

“Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara: [1] Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, [2] Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, [3] Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, [4] Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, [5] Hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Al Hakim dalam Al Mustadroknya, dikatakan oleh Adz Dzahabiy dalam At Talkhish berdasarkan syarat Bukhari-Muslim. Hadits ini dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Al Jami’ Ash Shogir)

Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, maksudnya: “Lakukanlah ketaatan ketika dalam kondisi kuat untuk beramal (yaitu di waktu muda), sebelum datang masa tua renta.”

Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, maksudnya: “Beramallah di waktu sehat, sebelum datang waktu yang menghalangi untuk beramal seperti di waktu sakit.”

Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, maksudnya: “Manfaatklah kesempatan (waktu luangmu) di dunia ini sebelum datang waktu sibukmu di akhirat nanti. Dan awal kehidupan akhirat adalah di alam kubur.”

Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, maksudnya: “Bersedekahlah dengan kelebihan hartamu sebelum datang bencana yang dapat merusak harta tersebut, sehingga akhirnya engkau menjadi fakir di dunia maupun akhirat.”

Hidupmu sebelum datang kematianmu, maksudnya: “Lakukanlah sesuatu yang manfaat untuk kehidupan sesudah matimu, karena siapa pun yang mati, maka akan terputus amalannya.”

Al Munawi mengatakan,

فَهِذِهِ الخَمْسَةُ لَا يَعْرِفُ قَدْرَهَا إِلاَّ بَعْدَ زَوَالِهَا

Lima hal ini (waktu muda, masa sehat masa luang, masa kaya dan waktu ketika hidup) barulah seseorang betul-betul mengetahui nilainya setelah kelima hal tersebut hilang.” (At Taisir Bi Syarh Al Jami’ Ash Shogir, 1/356)

Benarlah kata Al Munawi. Seseorang baru ingat kalau dia diberi nikmat sehat, ketika dia merasakan sakit. Dia baru ingat diberi kekayaan, setelah jatuh miskin. Dan dia baru ingat memiliki waktu semangat untuk beramal di saat masa remaja, setelah dia nanti berada di usia senja yang sulit beramal. Penyesalan tidak ada gunanya jika seseorang hanya melewati masa tersebut dengan sia-sia.

Orang yang Beramal di Waktu Muda Akan Bermanfaat untuk Waktu Tuanya

Dalam surat At Tiin, Allah telah bersumpah dengan tiga tempat diutusnya para Nabi ‘Ulul Azmi yaitu [1] Baitul Maqdis yang terdapat buah tin dan zaitun –tempat diutusnya Nabi ‘Isa ‘alaihis salam-, [2] Bukit Sinai yaitu tempat Allah berbicara langsung dengan Nabi Musa ‘alaihis salam, [3] Negeri Mekah yang aman, tempat diutus Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Setelah bersumpah dengan tiga tempat tersebut, Allah Ta’ala pun berfirman,

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ (4) ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ (5) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.” (QS. At Tiin [95]: 4-6)

Maksud ayat “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya,” ada empat pendapat. Di antara pendapat tersebut adalah “Kami telah menciptakan manusia dengan sebaik-baiknya sebagaimana di waktu muda yaitu masa kuat dan semangat untuk beramal.” Pendapat ini dipilh oleh ‘Ikrimah.

“Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya.” Menurut Ibnu ‘Abbas, ‘Ikrimah, Ibrahim dan Qotadah, juga Adh Dhohak, yang dimaksudkan dengan bagian ayat ini adalah “dikembalikan ke masa tua renta setelah berada di usia muda, atau dikembalikan di masa-masa tidak semangat untuk beramal setelah sebelumnya berada di masa semangat untuk beramal.” Masa tua adalah masa tidak semangat untuk beramal. Seseorang akan melewati masa kecil, masa muda, dan masa tua. Masa kecil dan masa tua adalah masa sulit untuk beramal, berbeda dengan masa muda.

An Nakho’i mengatakan, “Jika seorang mukmin berada di usia senja dan pada saat itu sangat sulit untuk beramal, maka akan dicatat untuknya pahala sebagaimana amal yang dulu dilakukan pada saat muda. Inilah yang dimaksudkan dengan firman Allah (yang artinya): bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.”

Ibnu Qutaibah mengatakan, “Makna firman Allah (yang artinya), “Kecuali orang-orang yang beriman” adalah kecuali orang-orang yang beriman di waktu mudanya, di saat kondisi fit (semangat) untuk beramal, maka mereka di waktu tuanya nanti tidaklah berkurang amalan mereka, walaupun mereka tidak mampu melakukan amalan ketaatan di saat usia senja. Karena Allah Ta’ala Maha Mengetahui, seandainya mereka masih diberi kekuatan beramal sebagaimana waktu mudanya, mereka tidak akan berhenti untuk beramal kebaikan. Maka orang yang gemar beramal di waktu mudanya, (di saat tua renta), dia akan diberi ganjaran sebagaimana di waktu mudanya.” (Lihat Zaadul Maysir, 9/172-174)
Begitu juga kita dapat melihat pada surat Ar Ruum ayat 54.

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِن بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِن بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفاً وَشَيْبَةً يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَهُوَ الْعَلِيمُ الْقَدِيرُ

“Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (QS. Ar Ruum: 54)

Ibnu Katsir mengatakan, “(Dalam ayat ini), Allah Ta’ala menceritakan mengenai fase kehidupan, tahap demi tahap. Awalnya adalah dari tanah, lalu berpindah ke fase nutfah, beralih ke fase ‘alaqoh (segumpal darah), lalu ke fase mudh-goh (segumpal daging), lalu berubah menjadi tulang yang dibalut daging. Setelah itu ditiupkanlah ruh, kemudian dia keluar dari perut ibunya dalam keadaan lemah, kecil dan tidak begitu kuat. Kemudian si mungil tadi berkembang perlahan-lahan hingga menjadi seorang bocah kecil. Lalu berkembang lagi menjadi seorang pemuda, remaja. Inilah fase kekuatan setelah sebelumnya berada dalam keadaan lemah. Lalu setelah itu, dia menginjak fase dewasa (usia 30-50 tahun). Setelah itu dia akan melewati fase usia senja, dalam keadaan penuh uban. Inilah fase lemah setelah sebelumnya berada pada fase kuat. Pada fase inilah berkurangnya semangat dan kekuatan. Juga pada fase ini berkurang sifat lahiriyah maupun batin. Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban”.” (Tafsir Al Qur’an Al Azhim pada surat Ar Ruum ayat 54)

Jadi, usia muda adalah masa fit (semangat) untuk beramal. Oleh karena itu, manfaatkanlah dengan sebaik-baiknya. Janganlah disia-siakan.

Jika engkau masih berada di usia muda, maka janganlah katakan: jika berusia tua, baru aku akan beramal.

Daud Ath Tho’i mengatakan,

إنما الليل والنهار مراحل ينزلها الناس مرحلة مرحلة حتى ينتهي ذلك بهم إلى آخر سفرهم ، فإن استطعت أن تـُـقدِّم في كل مرحلة زاداً لما بين يديها فافعل ، فإن انقطاع السفر عن قريب ما هو ، والأمر أعجل من ذلك ، فتزوّد لسفرك ، واقض ما أنت قاض من أمرك ، فكأنك بالأمر قد بَغَـتـَـك

Sesungguhnya malam dan siang adalah tempat persinggahan manusia sampai dia berada pada akhir perjalanannya. Jika engkau mampu menyediakan bekal di setiap tempat persinggahanmu, maka lakukanlah. Berakhirnya safar boleh jadi dalam waktu dekat. Namun, perkara akhirat lebih segera daripada itu. Persiapkanlah perjalananmu (menuju negeri akhirat). Lakukanlah apa yang ingin kau lakukan. Tetapi ingat, kematian itu datangnya tiba-tiba. (Kam Madho Min ‘Umrika?, Syaikh Abdurrahman As Suhaim)

Semoga maksud kami dalam tulisan ini sama dengan perkataan Nabi Syu’aib,

إِنْ أُرِيدُ إِلَّا الْإِصْلَاحَ مَا اسْتَطَعْتُ وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ

“Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.” (QS. Hud [11]: 88)

Semoga Allah memperbaiki keadaan segenap pemuda yang membaca risalah ini. Semoga Allah memberi taufik dan hidayah kepada mereka ke jalan yang lurus.

Senin, 29 Desember 2008

OBAT JERAWAT & DEOS MURAH DAN MANJUR


CARA MUDAH DAN MURAH MENGHILANGKAN JERAWAT DAN DEOS

Ada penyakit pasti Allah menyertai obatnya. Begitu pula dengan jerawat, penyakit sebangsa bisul ini apabila terjangkit sakit dan memalukan rasanya, terutama bagi anak kawula muda. Cantik.....sayang jerawaten, tanpan ......sayang jerawaten. Oh, sungguh memalukan dan membuat siempunya malu dan minder. Cari obat ke sana ke mari kadang kala sembuh kadang kala kalau tidak cocok bahkan bertambah parah jerawatnya.

Kini gak usah cari sulit-sulit untuk mencari obat, obatnya terdapat pada diri kita sendiri. Air kencing yang maaf.....pesing, jorok dan sebagainya mampu mengobati jerawat secara cepat.

Memang sich cara ini menurut kebanyakan orang cara gila, masak kootoran dapat menyembuhkan. Namun pengobatan ini merupakan pengalaman asli penulis sendiri. Dulu wajahku mulus dan putih namun menginjak remaja wajahku mulai ditumbuhi jerawat, sungguh malu aku pada saat itu. Aku mencari obatnya ke sana kemari gak bisa sembuh, aku putus asa rasanya. Di saat putus asa tersebut sahabatku menawari agar jerwat tersebut dapat disembuhkan dengan AIR KENCINGNYA SENDIRI. Pertama aku mendengarkan tertawa terpingkal-pingkal, lucu dan gak percaya, masak kotoran dapat menyembuhkan penyakit jerawat ?, ” ah, sudahlah jangan tertawa kayak gitu, gak percaya yan gak apa-apa tapi jika masih jerawatan apa salahnya dicoba”, kata temanku tersebut.


Aku penasaran, kucoba disaat mau mandi aku kebetulan buang air kecil, saat itu air kencing tersebut kuambil pakai tangan kiriku terus perlahna kuoleskan ke tempat jerawat setelah sekitar 5 menit wajahku kubersihkan pakai sabun. Begitu rutin aku setiap mandi cara tersebut kupakai diam-diam selama 3 hari, dan tak terduka jerawat dan deos cepat teratasi dan kucoba selama 1 minggu wajahku bersih dari jerwat dan deos.

Silahkan dicoba, gak ada yang tahu jika anda pakai cara seperti ini

Minggu, 28 Desember 2008

SAKIT SAAT KENCING/ BUANG AIR KECIL ( JAWA : ANYANG-ANYANGEN........?



TIPS NGATASI SAKIT KETIKA KENCING ( JAWA : ANYANG-ANYANGEN )
Jika saudara kebetulan sakit pada saat kencing ( jawa : anyang-anyangen ), maka konsep penyembuhan dan mujarab sangat mudah sekali.
Ikuti tips di bawah ini :
1.Cari tali apa saja ( misal : tali rafia, karet gelang atau apa saja )
2.Tali tersebut ikatkan pada ibu jari kaki anda ( kurang lebih 10 menit ), yang penting jalan darah di ibu jari terhambat sementara. Jika kurang yakin kaki yang mana ? ya, silahkan ibu jari kaki keduanya.
3.Jika sampai 10 menit maka lepaskan tali pengikatnya
4.Coba kencing, Insya Allah anda sudah tidak sakit lagi atau nyeri.

Mudah.......khan....?

Kamis, 25 Desember 2008

SERTIFIKASI GURU DALAM JABATAN DEPAG PASURUAN: SERTIFIKASI GURU DEPAG PASURUAN 2008

SERTIFIKASI GURU DALAM JABATAN DEPAG PASURUAN: SERTIFIKASI GURU DEPAG PASURUAN 2008

SERTIFIKASI GURU DEPAG PASURUAN 2008

Depag Pasuruan telah mensertifikasi sekitar 300 lebih guru untuk tahap ke-3. Namun dari sekian guru 65% dinyatakan belum lulus atau masih harus menjalani PLPG di beberapa tempat sesuai dengan bidang studi yang di sertifikasi di setiap jenjang pendidikan dan 34% dinyatakan lulus dengan hasil mencapai target nilai minimal yakni 850 dari masing-masing 10 komponen yang menjadi persyaratan portofolio.

Bulan romadlon kemarin menjadi ajang berjuang agar lolos dan lulus sertifikasi secara portofolio. Haus dan lapar seakan tak dihiraukan demi memenuhi nilai target minimal yang telah ditetapkan.

Dosen-dosen dari IAIN Sunan Ampel Surabaya ditunjuk sebagai tim penilai atau assesor guru kelas MI dan mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Dosen-dosen UNESA Surabaya ditunjuk sebagai tim penilai atau assesor untuk guru bidang studi umum.

Al-Hamdulillah penulis lulus dengan hasil yang memuaskan yakni mendapat nilai 1.384,5 ( Ranking 1 atau terbaik se-kabupaten Pasuruan untuk sertifikasi guru depag dalam jabatan angkatan 2008 ) dengan nilai tersebut seakan sebagai obat betapa beratnya menuyusn portofolio dalam keadaan puasa. Dengan lulus tersebut kuucapkan terima kasih tak terhingga terhadap Allah SWT,kepada assesor saya,orang tua saya, keluarga dan terutama istri tercinta yang selalu memberikan kami motivasi sehingga saya bisa menuyusun portofolia sedemikian rupa dan berat. aku sendiri tidak tahu namun di atas tulisan ini aku mengucapkan banyak terima kasih pada asesor kami dari IAIN Sunan Ampel Surabaya atas penilannya.

Sabtu, 13 September 2008

SERTIFIKASI

Al-Hamdulillah kami ucapkan yang tak terhingga, aku bersyukur yang tak terhingga kepada Tuhanku tercinta Allah Robbul 'Alamiin. Aku masuk sertifikasi tahun 2008.
Sungguh melelahkan...., harus mengumpulakan semua instrumen portofolio.Mulai komponen kulifikasi akademik, sampai komponen ke-10 yakni penghargaan yang relevan di dunia pendidikan.
Semua aku lalui, jum'at tanggal 12 September 2008 yang panas di tengah terik matahari bulan puasa romadlon semua dah aku selesaikan dengan sempurna, walau sana-sini ada kekurangan dalam penataan.
Kini sekarang aku tinggal menunggu penilaian dari Assesor dari UIN Malang, aku berdoa kepada Allah agar potrtofolioku lolos dan lulus mutlak tanpa harus diklat

Minggu, 13 April 2008

Sertifikasi Yang dinanti-nanti

Gajih guru sertifikasi menggiurkan, persyaratan portofolio yang harus dicapai membuat para guru memburu untuk mengejar poin.
Diklat atau pelatihan di semua tingkatan dilalui. guru-guru di Indonesia masih goblok-goblok sehingga perlua pelatihan. kalau gak ikut pelatihan kita belum jadi guru profesional, katanya.

Zaki Naik Motor